News  

Evaluasi Pentas “Sang Pambengkas” : Perlunya Hidup yang Dilandasi Kasih

Pengurus dan anggota Paguyuban Kembang Adas dalam pertemuan evaluasi pentas baca “Sang Pambengkas” di Kwarasan, Nogotirto, Gamping, Sleman DIY, Rabu 10/7/2014. (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews)

bernasnews – Iri, dengki, kecemburuan, ketakrelaan dan sejenisnya tidak pernah dapat menumbuhkan  kebaikan. Sebaliknya, hidup yang dilandasi dengan rasa kasih dan kesepenanggungan pada sesama akan mendatangkan ketenteraman dan kedamaian. 

“Pesan inilah yang dapat kita tarik dari serentetan intrik yang terjadi di sebuah kerajaan kecil bernama Kisala pada Abad 1 sampai Abad 3 yang berada di seputar daerah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang didirikan oleh Rakai Sangker, seorang bersifat bengis yang berasal dari India,” kata Pengurus Paguyuban Kembang Adas A.R. Laksmi Lastari atau Ami Pamungkas dalam acara evaluasi pentas baca Sang Pambengkas di rumah kediaman Pimpinan Paguyuban Cicit Kaswami Rahayu, Perum Griya Arga Permai, Kwarasan, Nogotirto, Gamping, Sleman, Rabu (10/7/2024). 

Pentas baca Sang Pambengkas telah diadakan di Pendapa ASDRAFI Sompilan, Ngasem, Yogyakarta pada 16 Juni 2024 berkenaan HUT ke-8 Kembang Adas. Evaluasi pentas dilakukan oleh Bu Ageng Cicit dan dibantu Mujiyati Hasmi.

 Kegiatan temu perencanaan, pelaksanaan pentas dan evaluasi seperti ini sudah rutin dilaksanakan oleh paguyuban budaya dan sastra Jawa ini. Hal tersebut dimaksudkan agar karya dan penampilan Kembang Adas dapat semakin baik dan bermakna bagi kehidupan, khususnya budaya dan sastra Jawa.

Cicit Kaswami Rahayu mengajak para anggota Kembang Adas untuk tetap semangat dalam belajar dan berkarya budaya dan sastra Jawa. Penulis sastra Jawa yang telah berusia 82 tahun ini berharap, Kembang Adas tetap dapat eksis dalam memberikan makna kehidupan melalui budaya dan sastra Jawa.

Pada pertemuan evaluasi pentas baca ini juga diadakan sarasehan singkat tentang literasi masyarakat oleh Pegiat Literasi Y.B. Margantoro yang menyampaikan pentingnya paguyuban dan para personelnya untuk mengkomunikasikan keberadaan dan karya Kembang Adas secara tertulis ke media publik.

“Banyak platform media massa yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan karya tulis demi dan atas nama Kembang Adas. Seperti misalnya media cetak, media elektronik, media online, dan buku. Juga dapat dimanfaatkan media sosial untuk ‘mengkampanyekan’ karya Kembang Adas,” kata dia.

Pengurus dan anggota Kembang Adas yang hadir pada pertemuan evaluasi pentas baca ini adalah Cicit Kaswami Rahayu, Ami Simatupang, Mujiyati, Titik Yatiman, Margono Wedyo Pranasworo, Rina Nikandaru, Martini, Eko Winardi, Eko Yuwono, Triyono, S. Imam Widoyoko, Yohanes Siyamto, Pascalia WD, Latih Wuriyanti, Yohanita Lila Minangkani, Ninuk Retno Raras dan Yuli Purwati.  

Orang Jawa masih lugu

Melanjutkan kisah Sang Pambengkas, Ami Simatupang mengemukakan, kala itu orang Jawa masih sangat lugu sehingga dengan terpaksa menuruti kemauan  Rakai Sangker untuk mendirikan kerajaan dan sebuah penjara yang disebut Punthuk. Penjara tersebut dari hari ke hari semakin penuh dengan tawanan, hingga kerap kerap kali terdengar jerit tangis para penghuninya. Hal ini membuat penduduk di sekitarnya menjauhi tempat tersebut karena merasa miris. 

Untunglah penguasa bengis itu tewas tatkala ingin menakhlukkan Kerajaan Ngawum Awun. Kisala kemudian dikendalikan oleh Rakai Waning yang sangat bijaksana, sehingga Kisala menjadi kerajaan aman tenteram sampai Abad 3. Ketika Kisala dipimpin oleh Prabu Karkamaya, karena usianya yang telah lanjut, dia memberikan kedudukannya kepada Karnikara, putra dari permaisuri. Maka tumbuhlah rasa iri pada diri Rakai Daning, putra sulung yang lahir dari selir sang raja. Daning kemudian pergi dari kerajaan, mencari ilmu dan kedigdayaan sebagai bekal untuk merebut Kerajaan Kisala.

Dua puluh tahun sesudahnya, Rakai Daning datang kembali menantang Karnikara yang segera tewas di tangannya. Rakai Daningpun naik tahta dan ingin menumpas semua yang dapat menghalangi kekuasaannya. Di saat itulah hadir sesosok makhluk yang selalu memberikan bisikan pada seorang remaja bernama Grigis agar melakukan kebajikan. Sosok ini bahkan menuntun Grigis agar menyelamatkan para kerabat kerajaaan yang ditahan di Penjara Punthuk. 

Suatu hari, halaman kerajaan terlihat ditumbuhi sejenis tumbuhan sebangsa waluh yang dengan cepat tumbuh subur sehingga mengotori pemandangan. Tak ada seorangpun yang mampu mencabut tanaman tersebut. Kemudian seseorang yang mengaku bernama Badranaya menghadap Rakai Daning dan menantangnya untuk beradu kekuatan mencabut tanaman tersebut, dengan ketentuan siapa yang menang akan menguasai kerajaan, sedangkan yang kalah akan tewas. Ternyata Rakai Daning tak dapat melakukannya dan tewas bersama patihnya Gemak Daru. 

Rakai Panunggal, adik dari Rakai Karnikara segera mempersilahkan Badranaya untuk naik tahta. Namun Badranaya menyatakan bahwa kiranya singgasana lebih tepat bila diduduki oleh keturunan raja, karena sebenarnya ia bukanlah manusia, melainkan ILMU JAWA SEJATI.  

Tentang sosok Badranaya itu, Pimpinan Komunitas Kembang Adas Cicit Kaswami Rahayu mengemukakan dalam bahasa Jawa, “Aku ngilmu Jawa Sejati. Sak mangsane wong Jawa kelangan Jawane, aku bakal mawujud”.  (mar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *